Jadi Pengusaha ? Mulailah Saat Sedang Berkuliah


08 Jan 2024/paulina kinanti eka praningtyas/berita/82 View

Akan ku ceritakan hal yang berbeda, sebuah kisah tentang seorang yang masih mempunyai kesempatan luas menarik rajut demi rajut setiap benang mimpi,yang masih bergelut dengan hiruk pikuk perjalanan terjal bernama, impian.

Namaku Afif, anak kedua dari tiga bersaudara, lahir dari keluarga yang sederhana, perjalananku berawal ketika masuk ke jenjang pendidikan bernama SMA di sebuah pondok pesantren, pikirku mulai paham realitas dunia, di mana banyak orang mempertaruhkan hidupnya demi mimpi-mimpi mereka, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal, inilah hidup banyak hal yang kadang tak sesuai kemauan kita. Fikiranku berkecamuk, entah kenapa obsesi itu hadir ketika orang tuaku mengisahkan perjalanan pribadinya, mereka berkata "Le, nak iso sesok kerjo ojo melu wong, bapak contohe, isuk-isuk wes mangkat, bengi wayahe wong turu malah kerjo, tetep kudu meneng pas diseneni walaupun kowe bener, nak iso bukako usaha dewe." Dari situ timbulah sebuah pandangan terang di depan mata, bahwa kehidupan kerja tak seindah katanya. Mulailah otakku ini berfikir dalam angan, sambil melihat ke langit, apakah aku harus memulainya sekarang? atau Tuhan sudah punya rencana yang tentunya rahasia alam? Pikiranku mengelak, nasib dan mimpi bisa mengubah takdir, toh Tuhan berfirman "Allah tidak akan merubah suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri" dari sini badanku merinding, darahku seolah mengalir lebih cepat dari biasanya, seolah tercengang dengan firman tersebut, ku memutuskan bahwa aku akan memulainya, aku akan menempuhnya sekalipun terjal dan berbahaya, akan ku tentukan sendiri ke mana arah nasib membawa impianku.



Sebagai seorang santri hariku diawali dengan bangun pagi dan mengaji, dilanjut masuk sekolah hingga siang, lalu lanjut mengaji di sore harinya, kegiatan itu berulang - ulang dengan diiringi berbagai kegiatan akademik dan non akademik, contohnya ekstra kulikuler seperti pencak silat, bermain musik, paskibraka, kegiatan osis dan lain-lain. Diluar itu, ternyata ada hal lain yang menarik perhatian, di pondok pesantren tentu akses untuk keluar terbatas, banyak santri yang kemudian mencukur rambutnya dengan sesama teman sendiri, di situlah entah kenapa aku tertarik mencoba untuk mencukur rambut temanku dan hasilnya pun tak terlalu mengecewakan, aku pun nampak senang melakukannya, inikah yang disebut pasion? Singkatnya setelah banyaknya permintaan, aku memutuskan untuk membeli mesin cukur rambut dengan harga yang tidak seberapa, mulailah aku mempelajari teknik cukur rambut menggunakan mesin.


Tak berselang lama waktu kelulusan pun tiba, saatnya memilih mau melanjutkan kuliah atau langsung bekerja, tapi semuanya seakan berhenti sejenak,rencana tuhan berkata lain saat covid datang, dunia seakan berubah seketika, ekonomi berputar drastis, banyak orang kehilangan pekerjaannya. Namun aku akan tetap mencari solusi di tengah kebingunganku, pada akhirnya kutemukan Universitas Stekom, akhirnya aku berlabuh di sini, mengambil kelas karyawan tentunya agar bisa sambil bekerja. Singkat cerita aku menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa yang mengikuti kelas melalui daring tentunya, karena pada saat covid dilarang bertatap muka secara langsung. Hari demi hari ku jalani, sepertinya diriku mulai mencapai titik bosan dengan rutinitas itu, sampai akhirnya aku berfikir langkah apa yang harus diambil. Dan akhirnya aku memutuskan membuka Barbershop Ku sendiri yang kuberi nama Avif Hairstudio, sebuah impian yang selama ini ku cari sambil menatap tepian awan tampaknya terwujud, dan ada yang lebih spesial, yaitu aku berhasil mewujudkan dua hal dari apa yang kupikirkan beberapa tahun lalu, iaitu perkataan bapakku dan janji tuhan yang aku percayai, ternyata skenarionya sungguh indah dan nyata, impian itu sekarang ada di depan pelupuk mata dan pada akhirnya aku hanya bisa berdoa dan berusaha, semoga impianku ini kelak akan tumbuh subur di masa depan dan menjadi mentari bagi orang-orang yang mengetahuinya. Sekian..