Ditjen Risbang Dorong Hilirisasi Riset dan Inovasi Berdampak, Program Kakak Tangguh Resmi Diluncurkan

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Karena itu, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan riset yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Tahun 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 22 Juni 2026. Kegiatan ini dihadiri para pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Timur serta dirangkaikan dengan peluncuran Program Kampus Berdampak Untuk Komunitas Lebih Tangguh (KAKAK TANGGUH).
Dukungan Pendanaan Riset Terus Ditingkatkan
Dalam sesi panel diskusi, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperluas dukungan terhadap kegiatan penelitian guna meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan nasional.
Menurut Fauzan, antusiasme akademisi terhadap program pendanaan riset mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2026, jumlah proposal penelitian yang diajukan mencapai sekitar 120 ribu proposal, hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 20 ribu proposal yang dapat memperoleh pendanaan.
Untuk memperkuat kapasitas riset nasional, pemerintah telah menambah alokasi anggaran riset sebesar Rp4 triliun. Penambahan anggaran tersebut diharapkan mampu membuka peluang yang lebih besar bagi peneliti dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang berkualitas.
Fokus pada Hilirisasi dan Solusi Nyata
Fauzan menegaskan bahwa arah kebijakan riset saat ini telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya keberhasilan riset banyak diukur melalui publikasi ilmiah, kini pemerintah lebih menekankan pada hilirisasi hasil penelitian dan penyelesaian masalah nyata di masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh industri maupun masyarakat luas. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.
Hilirisasi riset menjadi salah satu prioritas utama agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu memberikan manfaat konkret bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Jawa Timur Perkuat Ekosistem Pendidikan Tinggi dan Riset
Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Diah Savitri, menyampaikan bahwa Jawa Timur saat ini memiliki 304 perguruan tinggi dengan lebih dari 22 ribu dosen yayasan yang berperan penting dalam pengembangan pendidikan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa berbagai pencapaian berhasil diraih oleh perguruan tinggi di Jawa Timur, termasuk penghargaan Pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Terbaik tingkat nasional.
Selain itu, penguatan ekosistem riset juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, nilai pendanaan riset hilirisasi yang diterima perguruan tinggi di Jawa Timur mencapai sekitar Rp114 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar Rp127 miliar pada tahun 2026. Diah berharap peningkatan kualitas perguruan tinggi dapat terus dilakukan melalui penguatan tata kelola, kolaborasi antar lembaga, serta konsolidasi kelembagaan yang lebih baik.
BACA JUGA: Mendiktisaintek Dorong Budaya Riset dan Kolaborasi Kampus untuk Perkuat Pendidikan Tinggi Indonesia
Tantangan Meningkatkan Daya Saing Lulusan
Selain membahas penguatan riset, forum Rakerpim juga menyoroti pentingnya relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai bahwa peningkatan employability atau daya saing lulusan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha.
Menurut Khofifah, kerja sama tersebut penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri serta mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.
Program Kakak Tangguh Resmi Diluncurkan
Dalam kesempatan yang sama, LLDIKTI Wilayah VII secara resmi meluncurkan Program Kampus Berdampak Untuk Komunitas Lebih Tangguh (KAKAK TANGGUH) sebagai program unggulan tahun 2026.
Program ini merupakan bentuk kolaborasi strategis yang bertujuan membangun komunitas yang lebih mandiri, sehat, dan tangguh melalui enam klaster intervensi prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Pelaksanaan program akan melibatkan mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan di lapangan dengan pendampingan dosen dari berbagai perguruan tinggi. Program dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai Juni 2026 hingga Januari 2027. Melalui program tersebut, perguruan tinggi diharapkan semakin aktif berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat implementasi konsep kampus berdampak.
Rakerpim LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Ditjen Risbang menegaskan bahwa riset harus mampu menghasilkan dampak nyata melalui hilirisasi dan inovasi yang aplikatif, sementara peluncuran Program Kakak Tangguh menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat secara langsung. Dengan dukungan pendanaan yang terus meningkat dan kolaborasi yang semakin kuat, ekosistem pendidikan tinggi Indonesia diharapkan mampu menghasilkan riset dan lulusan yang lebih unggul, relevan, serta berdaya saing tinggi.
Recent Posts
Apa Perbedaan Sistem Blok dan Sistem... 23.06.2026/36 View
Argentina Tumbangkan Austria 2-0, Lionel Messi... 23.06.2026/37 View
Aljazair Bangkit dan Kalahkan Yordania 2-1,... 23.06.2026/43 View
Mengenal Program Kelas Karyawan... 23.06.2026/20 View
