Ironi Hukum di Indonesia, Pencuri Ayam di Bali Tewas Dikeroyok Massa Sementara Tersangka Korupsi Tetap Terkawal


27 Jul 2026/wizdan ulum/berita/24 View

Kasus meninggalnya seorang ayah berinisial KD di Bali setelah diduga mencuri seekor ayam menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena dugaan tindak pidana yang melatarbelakangi kejadian tersebut, tetapi juga karena cara masyarakat merespons kasus itu hingga berujung pada hilangnya nyawa seseorang. KD, seorang ayah yang meninggalkan seorang istri dan tiga anak, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan warga di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Peristiwa yang terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026 sekitar pukul 01.30 WITA tersebut memunculkan perdebatan mengenai tindakan main hakim sendiri dan bagaimana hukum seharusnya ditegakkan.

 

Seorang Ayah Kehilangan Nyawa Karena Dugaan Pencurian Ayam

Dilansir dari Kompas.com, peristiwa bermula ketika KD diduga hendak membawa seekor ayam milik warga. Aksi tersebut diketahui masyarakat sekitar hingga warga kemudian mengejar dan mengamankan korban. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Kompas.com, situasi kemudian berubah menjadi tindakan kekerasan. Korban diduga dikeroyok sejumlah warga hingga meninggal dunia. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Peristiwa ini memunculkan keprihatinan karena dugaan pencurian seekor ayam justru berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang. Banyak pihak menilai, apa pun kesalahan yang dilakukan seseorang, penyelesaian seharusnya tetap melalui jalur hukum, bukan dengan kekerasan.

 

Tangisan Anak Korban Jadi Sorotan Publik

Dilansir dari Kompas.com, kepergian KD meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, menyampaikan bahwa korban meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Anak pertama korban diketahui telah berkeluarga, sementara anak kedua masih duduk di bangku kelas I SMA dan anak bungsunya masih berada di kelas I SD.

Dikutip dari Kompas.com, tangisan anak bungsu KD saat prosesi pemakaman ayahnya di Kuburan Desa Adat Sidatapa menjadi perhatian masyarakat setelah videonya beredar di media sosial. Momen tersebut mengundang simpati karena memperlihatkan kesedihan seorang anak yang kehilangan sosok ayah. Berdasarkan keterangan yang dilansir Kompas.com, Sutama mengaku terpukul ketika melihat langsung kesedihan keluarga korban saat menjemput jenazah KD. Ia menyebut suasana tersebut menjadi salah satu bagian paling menyedihkan dari peristiwa tersebut.

 

BACA JUGA: Seorang Ayah Tewas di Bali Setelah Dituduh Mencuri Ayam, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan

 

Ironi Penegakan Hukum yang Disorot Masyarakat

Kasus KD kemudian dibandingkan oleh sejumlah pihak dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat atau orang dengan akses kekuasaan besar. Publik mempertanyakan bagaimana seseorang yang diduga melakukan pencurian kecil dapat kehilangan nyawa akibat amukan massa, sementara para tersangka kasus korupsi yang nilai kerugiannya jauh lebih besar masih melalui proses hukum dengan pengamanan aparat. Salah satu peristiwa yang turut menjadi sorotan adalah penanganan terhadap Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), yang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Dilansir dari Antara, saat tiba di Rumah Tahanan Cabang KPK, Febrie Adriansyah terlihat tidak mengenakan rompi tahanan dan tidak diborgol. Kejaksaan Agung menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena proses pemindahan dilakukan dalam keadaan terburu-buru dan sudah malam. Perbedaan perlakuan dalam sejumlah proses hukum tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai rasa keadilan di masyarakat. Banyak yang menilai bahwa setiap orang, baik masyarakat biasa maupun pejabat, seharusnya mendapatkan proses hukum yang sama sesuai aturan yang berlaku.

 

Dari Seekor Ayam hingga Emas 74 Kilogram

Kasus KD di Bali semakin menjadi sorotan publik karena memperlihatkan perbedaan besar antara dugaan pelanggaran yang dilakukan masyarakat biasa dengan perkara besar yang melibatkan dugaan tindak pidana korupsi. KD, seorang ayah yang meninggalkan seorang istri dan tiga anak, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa akibat persoalan seekor ayam. Dugaan pencurian tersebut seharusnya dapat diselesaikan melalui proses hukum, namun justru berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang. Di sisi lain, masyarakat juga menyoroti perkara yang menyeret Febrie Adriansyah terkait dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Dalam proses penyidikan perkara tersebut, aparat menemukan sejumlah barang bukti dengan nilai fantastis.

Dilansir dari Tirto, aparat menemukan sejumlah barang bukti dengan nilai fantastis dalam proses penyidikan. Barang bukti tersebut di antaranya emas batangan sebanyak 74 batang dengan total berat 74,01 kilogram. Selain emas, turut diamankan uang tunai berupa rupiah senilai Rp6.059.506.200, serta mata uang asing berupa USD 4.767.300 atau sekitar Rp85,68 miliar dan SGD 14.083.800 atau sekitar Rp196,33 miliar. Jika dikonversikan, total uang tunai dalam berbagai mata uang tersebut mencapai sekitar Rp288 miliar. Perbandingan tersebut kemudian memunculkan sorotan publik. Seorang ayah yang diduga terlibat pencurian seekor ayam harus kehilangan nyawa akibat tindakan main hakim sendiri, sementara perkara dengan nilai barang bukti jauh lebih besar tetap berjalan melalui mekanisme hukum.

 

Kasus KD Jadi Pengingat Pentingnya Keadilan

Kasus ayah tewas di Bali setelah diduga mencuri ayam menjadi pengingat bahwa hukum tidak boleh digantikan oleh amarah massa. Dugaan kesalahan seseorang tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang adil. Sebab, ketika masyarakat mengambil alih peran penegak hukum, risiko terbesar yang muncul adalah hilangnya nyawa seseorang tanpa adanya proses pengadilan. Di sisi lain, kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat dan dugaan kerugian negara juga menjadi pengingat bahwa masyarakat mengharapkan adanya perlakuan hukum yang setara bagi semua orang tanpa melihat status maupun latar belakangnya.