Perkembangan Sidang Noel Ebenezer, Dugaan Pemerasan Sertifikasi K3 Kian Terungkap


07 Apr 2026/wizdan ulum/berita/355 View

Sidang lanjutan kasus yang menjerat Immanuel Ebenezer kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada Senin 6 April 2026 dengan agenda pemeriksaan saksi. Dalam persidangan terbaru, jaksa menghadirkan sejumlah saksi dari pihak perusahaan yang terlibat dalam pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3.

Beberapa saksi yang dihadirkan antara lain perwakilan dari perusahaan swasta yang pernah mengurus sertifikasi K3 di Kementerian Ketenagakerjaan, di antaranya staf dan manajemen dari perusahaan kontraktor serta perusahaan jasa inspeksi. Salah satu saksi yang memberikan keterangan adalah Rony Sugiarto selaku Direktur PT Barito Sarana Karya.

Keterangan para saksi menjadi bagian penting untuk mengungkap dugaan praktik pemerasan yang terjadi dalam proses pengurusan sertifikat K3 di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan. Majelis hakim juga mendalami alur komunikasi dan transaksi yang diduga melibatkan terdakwa serta pihak terkait.

 

Dugaan Pemerasan dalam Sertifikasi K3

Kasus ini berawal dari dugaan adanya praktik pemerasan terhadap perusahaan yang mengurus sertifikasi K3. Jaksa menduga terdakwa bersama sejumlah pihak memanfaatkan kewenangan untuk meminta sejumlah uang dari para pemohon sertifikasi. Dalam persidangan terungkap bahwa nominal yang diminta memiliki pola tertentu, baik per dokumen maupun akumulasi tahunan.

Salah satu saksi, Rony Sugiarto selaku Direktur PT Barito Sarana Karya, mengungkap bahwa terdapat biaya nonteknis dalam pengurusan Surat Izin Operator SIO. Awalnya, biaya tersebut dipatok sebesar Rp500.000 per SIO, namun setelah dilakukan negosiasi akhirnya turun menjadi Rp250.000 per SIO.

Selain itu, dalam praktiknya perusahaan juga harus mengeluarkan dana dalam jumlah besar secara akumulatif. Saksi menyebut bahwa total pembayaran yang dikeluarkan per tahun bisa mencapai sekitar Rp100 juta untuk pengurusan sertifikasi K3.

Uang tersebut dibayarkan oleh saksi atau korban pemerasan untuk

  • Mempercepat proses penerbitan SIO dan sertifikat K3
  • Melancarkan proses administrasi tanpa hambatan
  • Memastikan izin operasional tetap berjalan

Di sisi lain, dalam dakwaan yang dibacakan jaksa, disebutkan bahwa total nilai pemerasan dari berbagai perusahaan mencapai sekitar Rp6,5 miliar, menunjukkan praktik ini berlangsung secara sistematis dan melibatkan banyak pihak.

 

BACA JUGA: Aturan Baru Pajak Kendaraan di Jabar, Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama

 

Istilah Duit Setan Muncul di Persidangan

Salah satu fakta menarik yang mencuat dalam sidang adalah munculnya istilah ‘duit setan’ yang diungkap oleh saksi dari pihak perusahaan. Seorang saksi dari perusahaan kontraktor mengaku bahwa pengeluaran dana untuk pengurusan sertifikasi K3 sempat dicatat sebagai “duit setan” dalam pembukuan internal perusahaan. Istilah tersebut merujuk pada biaya non resmi yang dianggap tidak wajar dan tidak memiliki dasar hukum.

Saksi juga menyebut bahwa perusahaan sebenarnya merasa keberatan dengan adanya biaya tersebut, namun tetap harus mengeluarkannya demi kelancaran proses sertifikasi dan agar proyek perusahaan tidak terhambat.

 

Tanggapan Noel di Persidangan

Dalam persidangan, terdakwa sempat menyinggung adanya praktik korupsi yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa praktik seperti yang disebut sebagai “duit setan” bukan hal baru di lingkungan kementerian. Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena dianggap membuka kemungkinan adanya praktik serupa yang lebih sistemik.

 

Peran Saksi dalam Mengungkap Kasus

Sidang juga menghadirkan beberapa saksi dari berbagai perusahaan yang pernah mengurus sertifikasi K3. Mereka memberikan keterangan terkait

  • Mekanisme pengurusan sertifikat
  • Permintaan biaya tambahan di luar prosedur resmi
  • Alur pemberian uang kepada pihak tertentu
  • Tujuan pembayaran agar proses sertifikasi dipercepat dan diloloskan

Keterangan saksi dinilai penting untuk membuktikan unsur pemerasan dalam perkara ini serta memperkuat dakwaan jaksa.

 

Latar Belakang Kasus Noel Ebenezer

Kasus ini bermula dari operasi penindakan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap dugaan praktik korupsi di Kementerian KetenagakerjaanImmanuel Ebenezer yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga terlibat dalam praktik pemerasan terkait sertifikasi K3.Perkara ini kemudian berkembang dengan melibatkan sejumlah pejabat dan pihak lain yang diduga ikut menerima aliran dana.

 

Sidang kasus Noel Ebenezer terus mengungkap berbagai fakta baru yang memperkuat dugaan adanya praktik pemerasan dalam pengurusan sertifikasi K3. Istilah duit setan menjadi simbol kuat adanya biaya tidak resmi yang membebani pihak pemohon.

Dengan terus dihadirkannya saksi-saksi, proses persidangan diharapkan mampu mengungkap secara jelas peran masing-masing pihak dan memberikan kepastian hukum. Perkembangan sidang ini masih akan menjadi perhatian publik dalam waktu ke depan.